Urutannya jelas
Rujukan paling berisiko selalu ada di atas antrean. Tidak perlu menebak mulai dari mana.

SIRUJUK
Menandai rujukan JKN yang perlu dicek lebih dulu, lengkap dengan alasannya.

Rujukan paling berisiko selalu ada di atas antrean. Tidak perlu menebak mulai dari mana.
Tiap rujukan disertai penjelasan dan angka pembanding, bukan cuma skor.
Skor hanya penunjuk prioritas. Keputusan akhir dan catatan alasannya ada di tangan verifikator.

Sumber data
Salah satu dari empat indikator skor memeriksa ketersediaan alat dan SDM di faskes asal menurut SISRUTE. Bila rujukan beralasan alat tidak tersedia padahal datanya menunjukkan tersedia, skor menandainya. Data yang sudah lama otomatis berbobot rendah.
Setiap rujukan melewati empat pemeriksaan berurutan sebelum menjadi satu skor.
Alasan rujukan dicocokkan dengan data alat dan tenaga medis di SISRUTE. Kalau datanya sudah lama tidak diperbarui, bobotnya diturunkan.
Rasio rujukan ringan dan konsentrasi rumah sakit tujuan dibandingkan dengan dokter sejenis di wilayah yang sama.
Catatan dokter dicek: terlalu umum atau sesuai panduan praktik klinis untuk diagnosis itu.
Skor 0 sampai 100 menentukan rujukan lolos, ditinjau verifikator, atau ditahan untuk audit medis.
Empat peran memakai satu sistem yang sama, dari antrean sampai klarifikasi.
Buka antrean yang sudah diurutkan dari skor tertinggi, periksa, lalu catat keputusan dan alasannya.
Bedah kasus merah satu per satu: bukti pendukung, penjelasan dokter, dan riwayat keputusannya.
Pantau agregat per wilayah, dari porsi risiko tinggi sampai konsentrasi RS tujuan. Tanpa identitas pasien.
Terima permintaan klarifikasi atas rujukanmu dan kirim penjelasan sebelum 7 hari kerja.
Apapun peranmu, setiap rujukan berakhir di salah satu dari tiga ini.
Lolos otomatis. Tidak perlu dicek manual.
Masuk antrean verifikator dengan prioritas menengah.
Klaim ditahan sementara sampai audit medis selesai.
Jawaban singkat atas hal yang paling sering ditanyakan dokter, verifikator, dan dinas kesehatan.
Tidak. Skor 0–100 hanya menentukan urutan antrean: hijau lolos, kuning ditinjau, merah diaudit lebih dulu. Skor merah pun belum tentu salah. Dokter lebih dulu diminta klarifikasi, dan tidak ada sanksi yang keluar dari sistem.
Selalu manusia: verifikator BPJS untuk antrean harian, TKMKB untuk kasus merah. Sistem hanya mengusulkan prioritas, lalu mencatat setiap keputusan beserta alasannya sehingga bisa diaudit balik.
Konteks itu ikut dihitung. Konsentrasi RS tujuan dibaca bersama ketersediaan alat dan SDM di faskes asal. Kalau memang tidak ada pilihan lain, sistem menurunkan bobot sinyalnya. Ambang kuning dan merah pun dikalibrasi dari sebaran skor nyata, bukan angka mati, dan dokter bisa menjelaskan lewat klarifikasi.
Ya, tetapi hanya untuk petugas berwenang yang sudah login: verifikator, TKMKB, dan dokter yang diminta klarifikasi. Dinas Kesehatan hanya melihat angka agregat per wilayah tanpa identitas pasien. Sistem mencatat setiap keputusan dan klarifikasi.
Empat indikator yang masing-masing menunjukkan nilai dan kesegaran datanya: porsi rujukan keluhan ringan, konsentrasi RS tujuan, ketersediaan alat/SDM di faskes asal, dan kewajaran narasi klinis. Kalau data pendukungnya basi, bobotnya otomatis turun, jadi ini bukan angka kotak hitam.
Keluhan yang dipalsukan pasien, kolusi dokter dengan pasien, dan rujukan yang dokumennya rapi tapi indikasi medisnya lemah, yaitu pola yang hanya terlihat lewat pemeriksaan fisik atau kunjungan lapangan. Itu sebabnya skor tidak pernah menjadi vonis.